Search

Friday, 4 December 2015

Laporan penelitian Terumbu Karang Tahun 2014

 KONDISI TUTUPAN TERUMBU KARANG
DI PERAIRAN RHANG MANYANG
DESA LAMREH, KECAMATAN KRUENG RAYA
KABUPATEN ACEH BESAR

Disusun Oleh :

Saiful Mahlil (07.12)

Sumber : Ocean Diving Club


OCEAN DIVING CLUB
FAKULTAS KELAUTAN DAN PERIKANAN
UNIVERSITAS SYIAH KUALA
2014


DAFTAR PUSTAKA


BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang



Terumbu karang memiliki peranan sebagai sumber makanan, habitat biotabiota laut yang bernilai ekonomis tinggi. Nilai estetika yang dapat dimanfaatkan sebagai kawasan pariwisata dan memiliki cadangan sumber plasma nutfah yang tinggi. Selain itu juga dapat berperan dalam
menyediakan pasir untuk pantai, dan sebagai penghalang terjangan ombak dan erosi pantai. Menurut Dahuri (2003) bahwa terumbu karang diidentifikasi sebagai sumberdaya yang memiliki nilai konservasi yang tinggi karena memiliki keanekaragaman biologis yang tinggi, keindahan, dan menyediakan cadangan plasma nutfah.
Eksploitasi sumberdaya alam di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil secara besar-besaran tanpa mempertimbangkan kelestariannya, berdampak pada menurunnya kualitas lingkungan hidup di wilayah tersebut, termasuk terumbu karang. Menurut hasil penelitian Pusat Pengembangan Oseanologi (P2O) LIPI yang dilakukan pada tahun 2000, kondisi terumbu karang Indonesia 41,78% dalam keadaan rusak, 28,30 % dalam keadaan sedang, 23,72 % dalam keadaan baik, dan 6,20 % dalam keadaan sangat baik. Hal ini menunjukkan telah terjadi tekanan yang cukup besar terhadap keberadaan terumbu karang di indonesia pada umumnya oleh beberbagai ancaman dan faktor-faktor penyebab kerusakan.
Kawasan Pesisir Daerah Rhang Manyang, Krueng Raya, Aceh Besar dan Sekitarnya memiliki potensi terumbu karang cukup besar dan sebagai habitat ikan karang yang bernilai ekonomis. Potensi sumber daya alam tersebut selama ini dimanfaatkan masyarakat setempat dan pendatang yang berdampak terjadinya penurunan kualitas terumbu karang yang berpengaruh pada pernurunan potensi sumberdaya hayati laut kawasan tersebut seperti kegiatan memancing di kawasan tutupan karang dengan menginjak terumbu karang, menembak ikan karang yang berlebihan tanpa adanya pemahaman tentang konservasi laut. Oleh karena itu diperlukan perencanaan upaya pengelolaan terumbu karang di kawasan tersebut agar terjaga kelestariannya dan dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.


Demikian juga halnya dengan daerah Rhang Manyang dan sekitarnya yang berada di dalam desa lamreh Kecamatan, Mesjid Raya, Kabupaten, Aceh Besar. Kawasan ini juga mempunyai potensi sumber daya alam pesisir dan lautan serta jasa-jasa lingkungan khususnya terumbu karang, yang memiliki prospek perekonomian yang mampu untuk mendorong pertumbuhan dan pengembangan pemukiman dan kegiatan ekonomi serta sosial lainnya di sekitar kawasan tersebut. Seiring dengan meningkatnya berbagai akitivitas pemanfaatan sumberdaya pesisir dan laut di Rhang Manyang dan sekitarnya, sebagai konsekuensi dari meningkatnya pengunjung wisata di wilayah tersebut, telah menimbulkan berbagai tekanan terhadap kondisi terumbu karang di kawasan tersebut. Dengan demikian dilakukan lah monitoring terumbu karang dipantai Rhang Manyang.

1.2 Tujuan

                Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi terumbu karang di sekitar pantai Rhang Manyang.

 

1.3 Rumusan Masalah

Dipantai Rhang Manyang banyak wisatawan baik dari lokal maupun wisatawan yang datang dari luar desa lamreh untuk memancing ikan karang dengan cara yang tidak ramah lingkungan yaitu menginjak terumbu karang mengakibatkan rusaknya ekosistem terumbu karang sehingga perlunya monitoring di pantai Rhang Manyang.

1.4 Manfaat Penelitian

                Manfaat dari penelitian ini adalah :
-          Diharapkan dapat memberikan informasi dasar mengenai tingkat keanekaragaman terumbu karang yang terdapat diperairan Rhang Manyang, tutupan karang serta keragaman ekosistem terumbu karang di perairan Rhang Manyang.
-          Memberikan pemahaman kepada masyarakat sekitar tentang pentingnya menjaga ekosistem terumbu karang untuk keberlangsungan hidup manusia yang sejahtera.



BAB II

TINJAUAN PUSTAKA


Terumbu karang sebagai suatu ekosistem merupakan masyarakat organisme yang hidup di dasar perairan dan berupa bentuk batuan gamping (CaCO3) yang cukup kuat menahan gelombang laut (Dawes,1981).

Terumbu karang merupakan endapan massif kalsium karbonat yang dihasilkan dari organisme karang pembentuk terumbu karang (karang hermatiik) dari ilum Coridaria ordo Scleractinia yang hidup bersimbiose dengan Zooxanthellae dan sedikit tambahan alga berkapur serta serta organisme lain yang mensekresikan kalsium karbonat. Terumbu karang merupakan suatu komunitas biologi yang tumbuh pada dasar batu gamping yang resisten terhadap gelombang (Romimohtarto dan Juana, 2005).

Ekosistem terumbu karang merupakan ekosistem yang sangat kompleks dengan keanekaragaman hayati yang sangat tinggi, mengingat kondisi atau aspek biologis, ekologis dan morfologis yang sangat khas, maka merupakan suatu ekosistem yang sangat sensitif terhadap berbagai gangguan baik yang ditimbulkan secara alamiah maupun akibat kegiatan manusia (Dahuri dkk; 2004)

Organisme penyusun terumbu karang (Scleractinia) hidup bersimbiose dengan alga Zooxanthellae yang dalam proses biologisnya alga mendapat karbondioksida (CO2) untuk proses photosintesis dan zat hara dari hewan-hewan terumbu karang (Tanjung,2002).

Penurunan kondisi terumbu karang di Indonesia antara tahun 1989-2000, terumbu karang dengan tutupan karang hidup di Indonesia bagian barat sebesar 50 % menurun dari 36 % menjadi 29 %, kondisi karang yang baik hanya 23 %, sedangkan di bagian timur Indonesia 45 %. Permasalahan
utama yang menyebabkan terjadinya degredasi terumbu karang disebabkan oleh manusia dan alam (Bruke,dkk,2002).


BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Waktu dan tempat

                Penelitian ini dilakukan di pantai Rhang Manyang yang terletak di desa Lamreh, Kecamatan Mesjid Raya, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh, Indonesia yaitu pada tanggal 26 September 2014 sampai dengan 28 september 2014.

3.2 Alat dan Bahan

            3.2.1 Alat

                                Adapun alat-alat yang digunakan pada monitoring ini adalah sebagi berikut :
No
Alat
Jumlah
Keterangan
1
Alat tulis bawah air
1 set
Untuk mencatat didalam air
2
Peralatan SCUBA
1 set
Peralatan Menyelam
3
pH meter
1 set
Mengukur kadar asam dan basa suatu perairan
4
Refraktometer
1 set
Mengukur salinitas
5
Floating grade
1 set
Mengukur kecepatan arus
6
DO meter
1 set
Mengukur kadar Oksigen terlarut
7
Transek 100 meter
4 buah
Meteran pengambilan data
8
Buku identifikasi karang
1 buah
Alat bantu identifikasi karang
9.
Secchi disk
1 buah
Mengukur kecerahan perairan






Tabel 1. Daftar alat untuk monitoring

3.3 Prosedur Kerja

                Data yang diambil sebanyak 2 jenis data yaitu data terumbu karang dan parameter kualitas. Pengambilan data dilakukan pada waktu yang sama.

3.3.1 Data Monitoring Terumbu Karang

                Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan Transek 100 meter dan terdapat 4 segmen, masing-masing segmen berjarak 20 meter dengan interval setiap segmennya yaitu 5 meter. Dicatat setiap substrat yang menyinggung transek.

3.3.2 Data Parameter Kualitas Air

            Pengambilan data parameter kualitas air dilakukan dengan menggunakan alat parameter yaitu Refractometer, pH Meter, DO Meter, dang Floatinggrade. Dicatat semua hasil yang ditampilkan oleh alat tersebut.

3.4 Analisis Data

3.4.1 Terumbu Karang

A. Persentasi Penutupan Karang
            Perhitungan persentase penutupan (percent of cover) bagi masing-masing kategori pertumbuhan karang dihitung dengan cara membandingkan panjang total setiap kategori dengan panjang transek total dengan menggunakan formula berikut (English dkk,. 1997) :
 



            Kriteria kondisi tutupan karang hidup adalah sebagai berikut (Gomez dkk., 1998) :
Tutupan 0 – 24.9%      = buruk
Tutupan 25 – 49.9%    = sedang
Tutupan 50 – 74.9%    = baik
Tutupan 75 – 100%     = sangat baik

3.4.2 Parameter Kualitas Air

                Data parameter kualitas air diperlukan sebagai data pendukung karena data ini berbicara tentang kualitas perairan yang nantinya akan berhubungan dengan ekologi daerah tersebut. Parameter ini diambil dengan menggunakan alat khusus seperti pada table.1.

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil dan pembahasan

Kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil Indonesia mempunyai sumber daya hayati yang tinggi. Kontribusi sumberdaya hayati pesisir saat ini terbanyak untuk memenuhi kebutuhan protein masyarakat dari perikanan pesisir dan laut. Ekosistem pesisir merupakan ekosistem yang saling berhubungan anatara laut dengan daratan. Ekosistem pesisir sangat bermanfaat bagi biota-biota laut maupun manusia yang ada disekitar lingkungannya. Dalam penelitian ini, peneliti peneliti mengamati beberapa kondisi terumbu karang dan parameter kualitas air seperti parameter fisika yang mengukur arus, dan salinitas perairan serta parameter kimia seperti densitas, DO, dan pH disuatu perairan.
Penutupan karang adalah pemantauan yang dilakukan untuk melihat kondisi terumbu karang pada suatu perairan. Pemantaun ini bertujuan untuk mengetahui persentase karang yang masih hidup dan yang sudah mati serta untuk membandingkan tingkat penutupan karang di perairan tersebut. Monitoring ini dilakukan dengan metode LIT (Line Intercept Transect) dengan dua titik kedalaman yang berbeda yaitu di titik shallow dan deep.








Grafik 1. Perbandingan Persentase Keragaman Karang Shallow dan deep
Untuk kedalaman shallow berkisar sekitar 3 meter dan 6 meter untuk deep. Pada titik shallow terdapat 9 genus karang yang menyentuh transek seperti Acropora, Galaxea, porites, Favites, pocilopora, montastrea, Platygyra, Pavona, dan Heliopora. Sedangkan di titik deep terdapat 5 genus karang seperti Heliopora, Porites, Favia, Diploastrea, dan stylopora.
Pada titik deep, ditemukan karang yang menyentuh transek seperti Heliopora, Porites, Favia, Diploastrea, dan Stylopora. Sama halnya dengan shallow yang mana di deep pun masih didominasi oleh karang porites dengan presentasenya 9%.










.
Grafik 2. Perbandingan Persentase Tutupan Karang Hidup di Shallow dan deep

Berdasarkan di site shallow, kondisi terumbu karang hidup di dominasi oleh karang massive dengan presentase 86%. Menurut Suharsono (1984) Coral Massive memiliki adaptasi yang lebih tinggi dengan harapan hidup yang panjang, dan memiliki penyebaran yang terbatas, selanjutya Supriharsono (2007) menyatakan bahwa  Coral Massive merupakan karang yang paling toleran terhadap kenaikan suhu. Terbukti dengan suhu yang tinggi 27,6 °C (Tabel. 2) masih bisa hidup. Selain itu, patahan karang (Ruble) juga banyak di jumpai di pantai ini. Factor yang sangat kuat adalah para penembak ikan karang atau pemancing yang dengan atau tidak sengaja menginjak terumbu karang sehingga karang-karang seperti acropora menjadi patah.

4.2.2 Parameter Kualitas Air

                Berdasarkan monitoring yang dilakukan di pantai Rhang Manyang, dapat dilihat pada table parameter fisika dan kimia berikut :
No
Parameter Fisika dan Kimia
Satuan
Stasiun
I
1
Suhu
0C
27,6
2
Salinitas
ppt
32,3
3
Arus
ms-1
0,38
4
DO
mg/L
18,4
5
pH

6,99





Tabel 2. Data Parameter fisika dan Kimia perairan di pantai Amaramanyang

            Suhu dilokasi monitoring termasuk kurang baik bagi pertumbuhan terumbu karang, namun masih bisa ditoleransi oleh biota perairan. Menurut Sadarum et.al., (2006) bahwa suhu mempengaruhi kecepatan metabolisme dan reproduksi. Suhu paling optimal bagi pertumbuhan karang antara 23-30oC, semakin tinggi suhu suatu perairan maka proses kelarutan oksigen akan berkurang. Tingginya suhu dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor misalnya seperti intensitas cahaya matahari yang menembus permukaan air dan lain sebagainya. Faktor yang memungkinkan terjadinya suhu yang meningkat saat penelitian di karenakan pengambilan sampel dilakukan pada siang hari, saat matahari mulai mencapai titik terik serta daerah pengambilan sampelnya juga di daerah dangkal.
            Salinitas adalah salah satu parameter fisika yang berpengaruh terhadap suatu organisme laut. Salinitas yang diperoleh dari penelitian ini masih tergolong baik untuk pertumbuhan terumbu karang. Menurut Sadarum et.al., (2006) salinitas optimum bagi kehidupan karang berkisar antara 30-35 ppt. Terdapat beberapa Faktor yang mempengaruhi naik atau turunnya salinitas. Pada penelitian ini pengambilan sampel dilakukan saat penguapan air lebih besar dari pada curah hujan sehingga salinitasnya tinggi.
            Kecepatan arus dilokasi penelitian tergolong tinggi. Menurut Nontji (1993) keberadaan arus dan gelombang diperairan sangat penting untuk kelangsungan hidup terumbu karang. Pentingnya arus dan gelombng tersebut memberikan asupan energi dan nutrisi secara terus-menerus bagi biota-biota laut.




















BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

            Berdasarkan pembahasan penelitian diatas dapat disimpulkan bahwa Di pantai Rhang Manyang Desa Lamreh Kecamatan Krueng Raya Kabupaten Aceh Besar belum sangat dikenal keindahan laut nya oleh wisatawan-wisatawan asing sehingga masyarakat tidak terlalu peduli terhadap kondisi pantai tersebut, kelestarian suatu ekosistem akan tetap terjaga jika masyarakat sekitar ikut ambil bagian dalam hal ini, Kualiatas perairan Pantai Rhang Manyang tergolong bagus untuk ekosistem terumbu karang, dominasi terumbu karang di pantai Rhang Manyang baik di shallow maupun deep di dominasi oleh karang dari genus Porites dengan life form Coral Massive dengan persentase 36% untuk di shallow dan 9% untuk di deep.

5.2 Saran

                Semoga kedepan akan lebih banyak para ilmuwan yang datang untuk meneliti lebih jauh ekosistem pantai tersebut supaya keindahan alam bawah air akan tetap terjaga dan juga masyarakat sekitar di beri pelatihan atau pemahaman untuk tetap menjaga perairan pantai ini.













DAFTAR PUSTAKA

Bruke,dkk,2002 Dampak Kerusakan Ekosistem Terumbu Karang. Jurnal EKOSAINS. Vol. III No. 3  November 2011, hal:32.
Dawes,1981 dalam Supriharyono,2000
Dahuri dkk; 2004. Pendayagunaan Rehabilitasi dan Pengelolaan Terumbu Karang Indonesia. Jakarta
Nontji, A. 1993. Laut Nusantara. Djambatan. Jakarta, hal:367.
Romimohtarto dan Juana, 2005. Dampak Kerusakan Ekosistem Terumbu Karang. Jurnal EKOSAINS. Vol. III  No. 3  November 2011, hal:31.
Sadarum, B. 2006. Petunjuk Pelaksanaan Transplantasi Krang. Departemen Kelautan dan Perikanan. Jakarta hal:36.
Suharsono. 1984. Pertumbuhan Krang. Pusat Penelitian Biologi Laut. LON-LIPI. Jakarta, hal:10
Supriharsono. 2000. Pengelolaan Ekosistem Terumbu Karang. Djambatan. Jakarta, hal:129.
Tanjung,2002. Struktur Komunitas dan Penyakit Pada Karang (Scleractinia) di Perairan Lembata, Nusa Tenggara Timur. Ilmu kelautan juni 2012. Vol. 17 (2): 115.









LAMPIRAN







Gambar 1. Pengambilan Parameter                                         Gambar 2. Brifing dengan leader sebelum dive
                     Fisika dan kimia perairan






                                                                                             


Gambar 3. Pengambilan Data Terumbu Karang dengan metode LIT

No comments:

Post a Comment