KONDISI
TUTUPAN TERUMBU KARANG
DI
PERAIRAN RHANG MANYANG
DESA
LAMREH, KECAMATAN KRUENG RAYA
Saiful Mahlil (07.12)
![]() |
| Sumber : Ocean Diving Club |
OCEAN DIVING CLUB
FAKULTAS KELAUTAN DAN PERIKANAN
UNIVERSITAS SYIAH KUALA
2014
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Terumbu karang memiliki peranan sebagai sumber makanan, habitat biotabiota laut yang bernilai ekonomis tinggi. Nilai estetika yang dapat dimanfaatkan sebagai kawasan pariwisata dan memiliki cadangan sumber plasma nutfah yang tinggi. Selain itu juga dapat berperan dalam
menyediakan pasir untuk pantai, dan sebagai penghalang terjangan ombak dan erosi pantai. Menurut Dahuri (2003) bahwa terumbu karang diidentifikasi sebagai sumberdaya yang memiliki nilai konservasi yang tinggi karena memiliki keanekaragaman biologis yang tinggi, keindahan, dan menyediakan cadangan plasma nutfah.
Eksploitasi sumberdaya alam di wilayah pesisir dan
pulau-pulau kecil secara besar-besaran tanpa mempertimbangkan kelestariannya,
berdampak pada menurunnya kualitas lingkungan hidup di wilayah tersebut,
termasuk terumbu karang. Menurut hasil penelitian Pusat Pengembangan Oseanologi
(P2O) LIPI yang dilakukan
pada tahun 2000, kondisi terumbu karang Indonesia 41,78% dalam keadaan rusak,
28,30 % dalam keadaan sedang, 23,72 % dalam keadaan baik, dan 6,20 % dalam
keadaan sangat baik. Hal ini menunjukkan telah terjadi tekanan yang cukup besar
terhadap keberadaan terumbu karang di indonesia pada umumnya oleh beberbagai
ancaman dan faktor-faktor penyebab kerusakan.
Kawasan Pesisir Daerah Rhang Manyang, Krueng Raya,
Aceh Besar dan Sekitarnya memiliki potensi terumbu karang cukup besar dan
sebagai habitat ikan karang yang bernilai ekonomis. Potensi sumber daya alam
tersebut selama ini dimanfaatkan masyarakat setempat dan pendatang yang
berdampak terjadinya penurunan kualitas terumbu karang yang berpengaruh pada
pernurunan potensi sumberdaya hayati laut kawasan tersebut seperti kegiatan
memancing di kawasan tutupan karang dengan menginjak terumbu karang, menembak
ikan karang yang berlebihan tanpa adanya pemahaman tentang konservasi laut.
Oleh karena itu diperlukan perencanaan upaya pengelolaan terumbu karang di
kawasan tersebut agar terjaga kelestariannya dan dapat dimanfaatkan untuk
kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.
Demikian juga halnya dengan daerah Rhang Manyang dan sekitarnya
yang berada di dalam desa lamreh Kecamatan, Mesjid Raya, Kabupaten, Aceh Besar.
Kawasan ini juga mempunyai potensi sumber daya alam pesisir dan lautan serta
jasa-jasa lingkungan khususnya terumbu karang, yang memiliki prospek
perekonomian yang mampu untuk mendorong pertumbuhan dan pengembangan pemukiman
dan kegiatan ekonomi serta sosial lainnya di sekitar kawasan tersebut. Seiring
dengan meningkatnya berbagai akitivitas pemanfaatan sumberdaya pesisir dan laut
di Rhang Manyang dan sekitarnya, sebagai konsekuensi dari meningkatnya
pengunjung wisata di wilayah tersebut, telah menimbulkan berbagai tekanan
terhadap kondisi terumbu karang di kawasan tersebut. Dengan demikian dilakukan
lah monitoring terumbu karang dipantai Rhang Manyang.
1.2 Tujuan
Penelitian
ini bertujuan untuk mengetahui kondisi terumbu karang di sekitar pantai Rhang
Manyang.
1.3 Rumusan Masalah
Dipantai Rhang Manyang
banyak wisatawan baik dari lokal maupun wisatawan yang datang dari luar desa
lamreh untuk memancing ikan karang dengan cara yang tidak ramah lingkungan
yaitu menginjak terumbu karang mengakibatkan rusaknya ekosistem terumbu karang
sehingga perlunya monitoring di pantai Rhang Manyang.
1.4 Manfaat Penelitian
Manfaat
dari penelitian ini adalah :
-
Diharapkan dapat
memberikan informasi dasar mengenai tingkat keanekaragaman terumbu karang yang
terdapat diperairan Rhang Manyang, tutupan karang serta keragaman ekosistem
terumbu karang di perairan Rhang Manyang.
-
Memberikan
pemahaman kepada masyarakat sekitar tentang pentingnya menjaga ekosistem
terumbu karang untuk keberlangsungan hidup manusia yang sejahtera.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Terumbu
karang sebagai suatu ekosistem merupakan masyarakat organisme yang hidup di
dasar perairan dan berupa bentuk batuan gamping (CaCO3) yang cukup kuat menahan
gelombang laut (Dawes,1981).
Terumbu
karang merupakan endapan massif kalsium karbonat yang dihasilkan dari organisme
karang pembentuk terumbu karang
(karang hermatiik) dari ilum Coridaria ordo Scleractinia yang hidup bersimbiose
dengan Zooxanthellae dan sedikit tambahan alga berkapur serta serta
organisme lain yang mensekresikan kalsium karbonat. Terumbu karang merupakan suatu
komunitas biologi yang tumbuh pada dasar batu gamping yang resisten terhadap gelombang
(Romimohtarto dan Juana, 2005).
Ekosistem terumbu karang
merupakan
ekosistem yang sangat kompleks dengan keanekaragaman hayati yang sangat tinggi,
mengingat kondisi atau aspek biologis, ekologis dan morfologis yang sangat
khas, maka merupakan suatu ekosistem yang sangat sensitif terhadap berbagai gangguan baik yang
ditimbulkan secara alamiah maupun akibat kegiatan manusia (Dahuri dkk; 2004)
Organisme
penyusun terumbu karang
(Scleractinia) hidup bersimbiose dengan alga Zooxanthellae yang dalam proses
biologisnya alga mendapat karbondioksida (CO2) untuk proses photosintesis dan
zat hara dari hewan-hewan terumbu
karang (Tanjung,2002).
Penurunan
kondisi terumbu karang di Indonesia antara tahun 1989-2000, terumbu karang
dengan tutupan karang hidup di Indonesia bagian barat sebesar 50 % menurun dari
36 % menjadi 29 %, kondisi karang yang baik hanya 23 %, sedangkan di bagian timur Indonesia
45 %. Permasalahan
utama
yang menyebabkan terjadinya degredasi terumbu karang disebabkan oleh manusia
dan alam (Bruke,dkk,2002).
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Waktu dan tempat
Penelitian ini dilakukan di pantai Rhang Manyang yang
terletak di desa Lamreh, Kecamatan Mesjid Raya, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi
Aceh, Indonesia yaitu pada tanggal 26 September 2014 sampai dengan 28 september
2014.
3.2 Alat dan Bahan
3.2.1 Alat
Adapun
alat-alat yang digunakan pada monitoring ini adalah sebagi berikut :
No
|
Alat
|
Jumlah
|
Keterangan
|
1
|
Alat tulis bawah air
|
1
set
|
Untuk mencatat didalam air
|
2
|
Peralatan SCUBA
|
1
set
|
Peralatan Menyelam
|
3
|
pH meter
|
1
set
|
Mengukur kadar asam dan basa suatu perairan
|
4
|
Refraktometer
|
1
set
|
Mengukur salinitas
|
5
|
Floating grade
|
1
set
|
Mengukur kecepatan arus
|
6
|
DO meter
|
1
set
|
Mengukur kadar Oksigen terlarut
|
7
|
Transek 100 meter
|
4
buah
|
Meteran pengambilan data
|
8
|
Buku identifikasi karang
|
1
buah
|
Alat bantu identifikasi karang
|
9.
|
Secchi disk
|
1
buah
|
Mengukur kecerahan perairan
|
Tabel
1. Daftar alat untuk monitoring
3.3 Prosedur Kerja
Data
yang diambil sebanyak 2 jenis data yaitu data terumbu karang dan parameter
kualitas. Pengambilan data dilakukan pada waktu yang sama.
3.3.1 Data Monitoring Terumbu Karang
Pengambilan data
dilakukan dengan menggunakan Transek 100 meter dan terdapat 4 segmen,
masing-masing segmen berjarak 20 meter dengan interval setiap segmennya yaitu 5
meter. Dicatat setiap substrat yang menyinggung transek.
3.3.2 Data Parameter Kualitas Air
Pengambilan data parameter kualitas
air dilakukan dengan menggunakan alat parameter yaitu Refractometer, pH Meter,
DO Meter, dang Floatinggrade. Dicatat semua hasil yang ditampilkan oleh alat
tersebut.
3.4 Analisis Data
3.4.1 Terumbu Karang
A.
Persentasi Penutupan Karang
Perhitungan persentase penutupan (percent of cover) bagi masing-masing
kategori pertumbuhan karang dihitung dengan cara membandingkan panjang total
setiap kategori dengan panjang transek total dengan menggunakan formula berikut
(English dkk,. 1997) :
![]() |
Kriteria kondisi tutupan karang
hidup adalah sebagai berikut (Gomez dkk., 1998) :
Tutupan
0 – 24.9% = buruk
Tutupan
25 – 49.9% = sedang
Tutupan
50 – 74.9% = baik
Tutupan
75 – 100% = sangat baik
3.4.2 Parameter Kualitas Air
Data parameter kualitas
air diperlukan sebagai data pendukung karena data ini berbicara tentang
kualitas perairan yang nantinya akan berhubungan dengan ekologi daerah
tersebut. Parameter ini diambil dengan menggunakan alat khusus seperti pada table.1.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil dan
pembahasan
Kawasan
pesisir dan pulau-pulau kecil Indonesia mempunyai sumber daya hayati yang
tinggi. Kontribusi sumberdaya hayati pesisir saat ini terbanyak untuk memenuhi
kebutuhan protein masyarakat dari perikanan pesisir dan laut. Ekosistem pesisir
merupakan ekosistem yang saling berhubungan anatara laut dengan daratan.
Ekosistem pesisir sangat bermanfaat bagi biota-biota laut maupun manusia yang
ada disekitar lingkungannya. Dalam penelitian ini, peneliti peneliti mengamati
beberapa kondisi terumbu karang dan parameter kualitas air seperti parameter
fisika yang mengukur arus, dan salinitas perairan serta parameter kimia seperti
densitas, DO, dan pH disuatu perairan.
Penutupan
karang adalah pemantauan yang dilakukan untuk melihat kondisi terumbu karang
pada suatu perairan. Pemantaun ini bertujuan untuk mengetahui persentase karang
yang masih hidup dan yang sudah mati serta untuk membandingkan tingkat
penutupan karang di perairan tersebut. Monitoring ini dilakukan dengan metode
LIT (Line Intercept Transect) dengan dua titik kedalaman yang berbeda yaitu di
titik shallow dan deep.

Grafik 1. Perbandingan Persentase
Keragaman Karang Shallow dan deep
Untuk
kedalaman shallow berkisar sekitar 3 meter dan 6 meter untuk deep. Pada titik
shallow terdapat 9 genus karang yang menyentuh transek seperti Acropora,
Galaxea, porites, Favites,
pocilopora,
montastrea, Platygyra, Pavona,
dan Heliopora. Sedangkan di titik deep terdapat 5 genus karang seperti
Heliopora, Porites, Favia, Diploastrea, dan stylopora.
Pada
titik deep, ditemukan karang yang menyentuh transek seperti Heliopora, Porites, Favia, Diploastrea,
dan Stylopora. Sama halnya dengan shallow yang mana di deep pun masih
didominasi oleh karang porites dengan presentasenya 9%.

.
Grafik
2. Perbandingan Persentase Tutupan Karang Hidup di Shallow dan deep
Berdasarkan
di site shallow, kondisi terumbu karang hidup di dominasi oleh karang massive dengan
presentase 86%. Menurut Suharsono (1984) Coral
Massive memiliki adaptasi yang lebih tinggi dengan harapan hidup yang
panjang, dan memiliki penyebaran yang terbatas, selanjutya Supriharsono (2007)
menyatakan bahwa Coral Massive merupakan karang yang paling toleran terhadap
kenaikan suhu. Terbukti dengan suhu yang tinggi 27,6 °C
(Tabel. 2) masih bisa hidup. Selain itu, patahan karang (Ruble) juga banyak di
jumpai di pantai ini. Factor yang sangat kuat adalah para penembak ikan karang
atau pemancing yang dengan atau tidak sengaja menginjak terumbu karang sehingga
karang-karang seperti acropora menjadi patah.
4.2.2 Parameter Kualitas
Air
Berdasarkan
monitoring yang dilakukan di pantai Rhang Manyang, dapat dilihat pada table
parameter fisika dan kimia berikut :
No
|
Parameter Fisika dan Kimia
|
Satuan
|
Stasiun
|
I
|
|||
1
|
Suhu
|
0C
|
27,6
|
2
|
Salinitas
|
ppt
|
32,3
|
3
|
Arus
|
ms-1
|
0,38
|
4
|
DO
|
mg/L
|
18,4
|
5
|
pH
|
6,99
|
|
Tabel
2. Data Parameter fisika dan Kimia perairan di pantai Amaramanyang
Suhu dilokasi monitoring termasuk kurang baik bagi
pertumbuhan terumbu karang, namun masih bisa ditoleransi oleh biota perairan.
Menurut Sadarum et.al., (2006) bahwa suhu mempengaruhi kecepatan metabolisme
dan reproduksi. Suhu paling optimal bagi pertumbuhan karang antara 23-30oC,
semakin tinggi suhu suatu perairan maka proses kelarutan oksigen akan
berkurang. Tingginya suhu dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor misalnya
seperti intensitas cahaya matahari
yang menembus permukaan air dan lain sebagainya. Faktor yang memungkinkan
terjadinya suhu yang meningkat saat penelitian di karenakan pengambilan sampel
dilakukan pada siang hari, saat matahari mulai mencapai titik terik serta
daerah pengambilan sampelnya juga di daerah dangkal.
Salinitas adalah salah satu parameter fisika yang
berpengaruh terhadap suatu organisme laut. Salinitas yang diperoleh dari
penelitian ini masih tergolong baik untuk pertumbuhan terumbu karang. Menurut
Sadarum et.al., (2006) salinitas optimum bagi kehidupan karang berkisar antara
30-35 ppt. Terdapat beberapa Faktor yang mempengaruhi naik atau turunnya salinitas.
Pada penelitian ini pengambilan sampel dilakukan saat penguapan air lebih besar
dari pada curah hujan sehingga salinitasnya tinggi.
Kecepatan arus dilokasi penelitian tergolong tinggi.
Menurut Nontji (1993) keberadaan arus dan gelombang diperairan sangat penting
untuk kelangsungan hidup terumbu karang. Pentingnya arus dan gelombng tersebut
memberikan asupan energi dan nutrisi secara terus-menerus bagi biota-biota
laut.
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan penelitian
diatas dapat disimpulkan bahwa Di pantai Rhang Manyang Desa Lamreh Kecamatan
Krueng Raya Kabupaten Aceh Besar belum sangat dikenal keindahan laut nya oleh
wisatawan-wisatawan asing sehingga masyarakat tidak terlalu peduli terhadap
kondisi pantai tersebut, kelestarian suatu ekosistem akan tetap terjaga jika
masyarakat sekitar ikut ambil bagian dalam hal ini, Kualiatas perairan Pantai
Rhang Manyang tergolong bagus untuk ekosistem terumbu karang, dominasi terumbu
karang di pantai Rhang Manyang baik di shallow maupun deep di dominasi oleh
karang dari genus Porites dengan life form Coral Massive dengan persentase 36%
untuk di shallow dan 9% untuk di deep.
5.2 Saran
Semoga kedepan akan lebih
banyak para ilmuwan yang datang untuk meneliti lebih jauh ekosistem pantai
tersebut supaya keindahan alam bawah air akan tetap terjaga dan juga masyarakat
sekitar di beri pelatihan atau pemahaman untuk tetap menjaga perairan pantai
ini.
DAFTAR PUSTAKA
Bruke,dkk,2002 Dampak Kerusakan Ekosistem Terumbu Karang. Jurnal EKOSAINS.
Vol. III No. 3 November 2011, hal:32.
Dawes,1981
dalam Supriharyono,2000
Dahuri
dkk; 2004. Pendayagunaan Rehabilitasi dan
Pengelolaan Terumbu Karang Indonesia. Jakarta
Nontji,
A. 1993. Laut Nusantara. Djambatan.
Jakarta, hal:367.
Romimohtarto dan Juana, 2005. Dampak Kerusakan Ekosistem Terumbu Karang. Jurnal EKOSAINS. Vol. III No. 3 November 2011, hal:31.
Sadarum, B. 2006. Petunjuk Pelaksanaan Transplantasi Krang. Departemen Kelautan dan
Perikanan. Jakarta hal:36.
Suharsono.
1984. Pertumbuhan Krang. Pusat
Penelitian Biologi Laut. LON-LIPI. Jakarta, hal:10
Supriharsono.
2000. Pengelolaan Ekosistem Terumbu
Karang. Djambatan. Jakarta, hal:129.
Tanjung,2002. Struktur Komunitas dan Penyakit Pada
Karang (Scleractinia) di
Perairan Lembata, Nusa Tenggara Timur. Ilmu
kelautan juni 2012. Vol. 17 (2):
115.
LAMPIRAN

Gambar 1. Pengambilan Parameter Gambar
2. Brifing dengan leader sebelum dive
Fisika dan kimia perairan


Gambar
3. Pengambilan Data Terumbu Karang dengan
metode LIT


No comments:
Post a Comment